Tragedi Pertama
Sekretaris kabinet gerah terhadap media massa, sampai-sampai mengeluarkan instruksi agar instansi pemerintah tidak memasang iklan di media yang sering menyudutkan pemerintah. Saya sampai tertawa mendengar berita tersebut lewat media, dalam hati saya bertanya, apakah begini cara perpikir seorang Dipo Alam? katanya pemerintah siap menerima kritik, asal dilakukan dengan cara yang baik. terus kritik seperti apa lagi yang dianggap layak? bukankah media itu santun dalam pemberitaan? Lalu kok takut? Kalo merasa ga salah, kan ada hak jawab?
Saya akan langsung men-justified bahwa jika anda takut berada ditempat yang sunyi dan gelap berarti keimanan anda lemah. Kenapa? karena inti dari ketakutan adalah ketidakyakinan, karena adanya perbuatan yang menyimpang atau tidak benar, yang mana jika kita yakin tidak salah, ngapain takut?
Kesimpulan : Pemerintah terlalu banyak melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak berpihak pada rakyat, tapi lebih memikirkan golongan tertentu yang mereka sebut "our society".
Tragedi Kedua
Hak angket DPR dalam kasus pajak digadang-gadang. Pengennya sih, agar perpajakan negara ini lebih baik, ga bocor sana sini. Fraksi yang setuju banyaaak... mayoritaslah. Tiba-tiba digulirkan isu resuffle kabinet... ehh, lama-kelamaan cuman gaungnya aja yang kedengeran, begitu tiba hari H, kandas lagi tuh hak angket. Why? What's wrong?
Takut kalo menteri dari partainya diganti? Emang kalo ga punya menteri dari partainya jadi kayak macan ompong? Atau banyak orang partainya yang kesangkut masalah pajak? Ato menterinya banyak kesalahan sehingga harus cari muka, buat deal-deal agar ga dicopot? atau.. atau... atau...
Kesimpulan : kalimat "demi untuk kesejahteraan rakyat" hanya slogan. Tetap saja yang terwakili dalam kata masyarakat hanya "kami dan orang-orang disekeliling kami".... our society...
Sekretaris kabinet gerah terhadap media massa, sampai-sampai mengeluarkan instruksi agar instansi pemerintah tidak memasang iklan di media yang sering menyudutkan pemerintah. Saya sampai tertawa mendengar berita tersebut lewat media, dalam hati saya bertanya, apakah begini cara perpikir seorang Dipo Alam? katanya pemerintah siap menerima kritik, asal dilakukan dengan cara yang baik. terus kritik seperti apa lagi yang dianggap layak? bukankah media itu santun dalam pemberitaan? Lalu kok takut? Kalo merasa ga salah, kan ada hak jawab?
Saya akan langsung men-justified bahwa jika anda takut berada ditempat yang sunyi dan gelap berarti keimanan anda lemah. Kenapa? karena inti dari ketakutan adalah ketidakyakinan, karena adanya perbuatan yang menyimpang atau tidak benar, yang mana jika kita yakin tidak salah, ngapain takut?
Kesimpulan : Pemerintah terlalu banyak melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak berpihak pada rakyat, tapi lebih memikirkan golongan tertentu yang mereka sebut "our society".
Tragedi Kedua
Hak angket DPR dalam kasus pajak digadang-gadang. Pengennya sih, agar perpajakan negara ini lebih baik, ga bocor sana sini. Fraksi yang setuju banyaaak... mayoritaslah. Tiba-tiba digulirkan isu resuffle kabinet... ehh, lama-kelamaan cuman gaungnya aja yang kedengeran, begitu tiba hari H, kandas lagi tuh hak angket. Why? What's wrong?
Takut kalo menteri dari partainya diganti? Emang kalo ga punya menteri dari partainya jadi kayak macan ompong? Atau banyak orang partainya yang kesangkut masalah pajak? Ato menterinya banyak kesalahan sehingga harus cari muka, buat deal-deal agar ga dicopot? atau.. atau... atau...
Kesimpulan : kalimat "demi untuk kesejahteraan rakyat" hanya slogan. Tetap saja yang terwakili dalam kata masyarakat hanya "kami dan orang-orang disekeliling kami".... our society...